Rabu, 23 September 2020

Sebulan sudah aku hidup di negara orang. Merasakan ketidak jenak-an cuaca dari dingin ke panas, dan dari panas ke dingin yang sungguh tidak menentu. Malam ini pukul satu lebih dua belas suasana hatiku lagi tidak karuan. Singkat cerita, sudah banyak sekali hal yang terjadi dalam sebulan terakhir. Aku sempatkan beli sepeda tangan kedua dari seorang mahasiswa doktoral yang konon katanya suka mengoleksi sepeda. Kondisi sepedanya bagus, warna hijau tua dengan frame ukuran 57 tipe Heren. Selama sebulan terakhir sudah aku rasakan juga perkuliahan secara tatap muka. Tentu, ini jauh lebih enak dari berkuliah secara daring, tapi apa boleh buat, hidup ditengah masa pandemik memang penuh ketidak-pastian.

Aku tidak pernah merasa benar-benar rindu rumah, tapi aku rasa ini adalah bentuk ‘denial’ karena nyatanya meskipun secara sadar aku tidak rindu, namun alam bawah sadarku berkali-kali memimpikan rumah bersama dengan orang-orang kesayanganku di Jogja. Seringkali, aku terbangun di kamar asrama dalam keadaan bingung. Aku kadang lupa bahwa aku tidak lagi tidur di rumah.

Hari berganti, musim berganti, perkuliahan disini sangat pelik. Observasi bumi dan sistem informasi geografis ternyata lebih dari sekadar pengaplikasian software komputer. Ada ‘real science’ yang kompleks dibelakangnya. Dalam dua minggu terakhir aku belajar banyak tentang fisika kuantum, radiasi elektro magnetik, ilmu ukur bumi, koreksi atmosferik, spektral data gelombang, dan proyeksi satelit. Runyam dan rumit.

Selama sebulan terakhir aku juga sudah bertemu banyak sekali teman baru. Rasa-rasanya paska menempuh perkuliahan ini aku akan memilki jejaring internasional yang solid. Dalam hal ini aku bicara tentang negara-negara seperti Iran, Kazakhstan, Ethiopia, Rwanda, Nigeria, India, Bangladesh, Pakistan, Meksiko, Turki, Perancis, Moroko. Setidaknya ini berarti ITC (fakultas tempatku berkuliah) benar-benar sesuai dengan namanya yakni ‘International Training Center’. Lebih lanjut lagi, terkadang orang-orang memlintir singkatannya menjadi ‘International Torturing Center’ sebagai bentuk dadaisme iseng karena materi perkuliahannya sungguh sulit.

Published by Jurnalis Harian

Seorang WNI yang tinggal di Eropa dan suka menulis jurnal harian secara anonim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: