Rabu, 25 November 2020

Hari minggu pekan lalu aku dan seorang kawan perempuan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Groningen. Aku tentu tahu konsekuensinya, dimasa mendatang nanti aku akan selalu mengingat kawanku ini setiap kali berkunjung ke Groningen.

Kunjungan kami dibuka dengan secangkir cappuccino dan apple pie. Kami nikmati dengan santai dipinggir kanal utama sambil membayangkan rute demi rute yang harus dilalui hari itu. Kelar sarapan, kami bergegas untuk menelusuri kanal, bertemu dengan bangkai-bangkai kapal tua sampai mengunjungi Martini Tower yang konon katanya mansyur itu. Tidak lupa kami sempatkan pula untuk mencicipi olliebollen original yang kebetulan lagi mejeng cantik di tengah plaza utama. It was super nice, a combination of sweet and cripsy olliebollen combined with her giggle.

Lepas mengisi perut dengan olliebollen, pelabuhan selanjutnya yang kami pilih adalah RUG. Berkunjung ke kampus tetangga, begitu niatnya. Puas merasakan jadi mahasiswa di kampus lain, kami lanjut mengunjungi Groningen Museum, kebetulan yang sedang didisplay untuk eksebisi adalah “Unzipped The Rolling Stone”. Singkat cerita, it was nice, entah ada angin apa, kami bisa dapat tiket masuk gratis dari pengunjung lain yang “no shows”. Kami belajar sejarah lengkap tentang band yang bahkan tidak pernah kami dengarkan lagunya.

Hari sudah menjelang malam, entah ide nakal darimana, kawanku mengusulkan kami untuk coba ikut Sunday Service di Gereja Martini. Alasannya cliche, sebenarnya kami cuman ingin merasakan arsitektur dan interior tua dari gereja berumur 6 abad tersebut. Long story short, we did it but we left early because we really don’t understand the sermon, our dutch is not on that level yet. Nonetheless, orang-orang disana sangat baik, bahkan mereka bilang next time bila kami datang, mereka mau menghadirkan translator gratis.

Satu jam berlalu, kebaktian selesai dan perut kami terasa lapar. Makan malam hari itu kami tutup dengan sebuah dorum donner dan vegan falafel. Selesai makan malam, kami berjalan balik ke Groningen Station dan mengambil kereta pukul 10.25 menuju Zwolle, lalu dari Zwolle kami ambil kereta menuju ke Enchede.

Perjalanan hari itu adalah pertaruhan penuh konsekuensi. Konsekuensi akan momen-momen yang mungkin teringat kembali bila kedepannya aku akan mengunjungi Groningen lagi.

Published by Jurnalis Harian

Seorang WNI yang tinggal di Eropa dan suka menulis jurnal harian secara anonim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: